Harga Minyak Melonjak Saat AS Lanjutkan Blokade Laut Terkait Iran, WTI Naik Hampir 10%
Harga minyak global melonjak setelah AS melanjutkan blokade laut terkait Iran. WTI naik 9,4% intraday ke US$78,14, sementara Brent naik 9,6% ke US$83,30. Risiko Selat Hormuz mendorong biaya asuransi, angkutan, dan impor energi. Korea menghadapi tekanan lebih besar jika harga minyak dan dolar naik bersamaan.

Harga minyak internasional melonjak pada 13 Juli 2026 waktu AS. Kelanjutan blokade laut terkait Iran dan wacana biaya transit di Selat Hormuz langsung memasukkan risiko gangguan pengiriman minyak ke harga pasar. WTI naik 9,4% intraday menjadi US$78,14 per barel, sementara Brent naik 9,6% ke US$83,30. Kenaikan ini bukan sekadar pembelian jangka pendek; pasar menghitung ulang asuransi kapal tanker, potensi keterlambatan rute, dan premi risiko Timur Tengah.
Risiko Hormuz
Selat Hormuz adalah jalur penting bagi minyak mentah, produk BBM, dan LNG dari Teluk Persia menuju Asia serta Eropa. Saat ketegangan militer naik, operator kapal meninjau waktu tunggu, rute alternatif, dan biaya asuransi. Blokade menargetkan kapal dan perdagangan terkait Iran, tetapi pasar juga mengantisipasi keterlambatan kargo lain. Gagasan biaya sekitar 20% dari nilai kargo menambah kekhawatiran pada petrokimia dan ongkos laut.
Dampak ke Korea
Dengan asumsi kurs 1.380 won per dolar, WTI setara sekitar 108.000 won per barel dan Brent sekitar 115.000 won. Kilang Korea membeli minyak dalam dolar dan menjual BBM dalam won, sehingga minyak mahal dan won lemah meningkatkan tekanan biaya impor. Harga bensin dan diesel biasanya bergerak dengan jeda, dipengaruhi pajak bahan bakar, margin kilang, dan stok.
Prospek
Fokus pasar adalah cakupan nyata blokade, arus kapal di Hormuz, dan respons Iran. Jika ketegangan tidak mereda, minyak berpotensi tetap volatil di sekitar US$80 per barel.
Poin utama
- Harga minyak global melonjak setelah AS melanjutkan blokade laut terkait Iran. WTI naik 9,4% intraday ke US$78,14, sementara Brent naik 9,6% ke US$83,30. Risiko Selat Hormuz mendorong biaya asuransi, angkutan, dan impor energi. Korea menghadapi tekanan lebih besar jika harga minyak dan dolar naik bersamaan.
- Gunakan isi artikel dan FAQ sebelum bertindak.
- Bandingkan dengan isu terkait di kategori.
Tanya jawab
Mengapa harga minyak melonjak?
Blokade laut terkait Iran meningkatkan risiko gangguan di Selat Hormuz, sehingga pasar menambahkan premi risiko pada harga minyak.
Seberapa besar kenaikan WTI dan Brent?
Pada 13 Juli 2026 waktu AS, WTI naik 9,4% intraday ke US$78,14 dan Brent naik 9,6% ke US$83,30.
Apa dampaknya bagi Korea?
Harga minyak yang lebih tinggi dan won yang melemah dapat menaikkan biaya impor, lalu berdampak pada bensin, diesel, penerbangan, dan logistik.
Berita terbaru

Lonjakan Harga Minyak Angkat Saham Kilang Korea Usai Bentrokan AS-Iran
Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran pasokan minyak mentah dan mengangkat saham kilang Korea Selatan pada 13 Juli 2026. Harga minyak yang lebih tinggi mendukung nilai persediaan dan ekspektasi margin penyulingan, tetapi juga menaikkan biaya impor dalam won. Harga bensin dan diesel dapat bergerak dengan jeda. Volatilitas berp

Won-Dolar Ditutup Naik Tipis, Tegangan Timur Tengah dan Harapan Pasokan Hynix Beradu
Kurs won-dolar berakhir sedikit lebih tinggi pada 13 Juli karena risiko geopolitik Timur Tengah mendorong permintaan aset aman. Dolar menguat, tetapi harapan pasokan dolar terkait Hynix membatasi kenaikan. Pasar Korea kini mencermati harga minyak, likuiditas dolar, dan arus asing di saham domestik.

Won Melemah Hampir 6% Saat Asing Jual Saham Korea 156 Triliun Won
Aksi jual besar investor asing di saham Korea menambah tekanan pada won. Nilai jual bersih telah melebihi 156 triliun won tahun ini, sementara won melemah hampir 6% terhadap dolar. Pasar mencermati apakah perdagangan valas 24 jam dapat meredam pergerakan satu arah. Biaya impor, investasi luar negeri, dan lindung nilai perusahaan ikut terdampak.

Ekspor Bulanan Korea Tembus US$100 Miliar, Paradigma Dagang Berubah
Korea Selatan mencatat ekspor bulanan di atas US$100 miliar untuk pertama kalinya. Won lemah membantu pendapatan dan daya saing, tetapi rekor ini tidak hanya soal kurs. Semikonduktor, mobil, kapal, dan produk terkait energi menunjukkan perubahan struktur ekspor.

Permintaan dolar dari saham luar negeri naik, won berisiko bertahan 1.500
Pembelian saham luar negeri oleh investor Korea menciptakan permintaan dolar yang berkelanjutan. Jika kurs won-dolar bertahan di 1.500, biaya penukaran, harga impor, dan beban perusahaan meningkat. Pasar saham domestik juga bisa terdampak.

Kurs won-dolar turun lebih dari 10 won, data kerja AS lemah dan yen rebound
Kurs won-dolar turun lebih dari 10 won karena data ketenagakerjaan AS melemah dan yen rebound. Pasar kembali memperhitungkan peluang kebijakan moneter AS yang lebih longgar, sehingga permintaan dolar menurun. Kenaikan yen juga mengurangi tekanan pada won. Perusahaan dan investor Korea perlu mengelola volatilitas kurs.

Dolar-won berpeluang turun ke 1.500 dalam tiga bulan ditopang ekspor chip
Arah jangka pendek dolar-won kini lebih dipengaruhi respons kebijakan dan pemulihan ekspor. Citibank Korea menempatkan kurs dekat 1.500 dalam tiga bulan. Ekspor semikonduktor dan stabilisasi pasar valas dapat mengurangi tekanan pada won, sementara arus keluar asing tetap menjadi risiko.

Korea Siapkan 14,9 Triliun Won untuk Perusahaan Terdampak Kurs Tinggi
Kurs won-dolar berada di kisaran tengah 1.500 won dan menekan biaya perusahaan Korea. Pemerintah menyiapkan 14,9 triliun won melalui pinjaman dan penjaminan. Asuransi volatilitas valuta asing juga diperluas untuk mengurangi risiko kerugian kurs pada kontrak ekspor-impor.